Hari ini kita berkumpul
untuk bukan saja mengenang Rendra yang juga sangat akrab dipanggil Mas Willy,
tetapi memberi arti keberadaannya sebagai pelopor di bidang puisi: orang pertama
yang menulis ballada, penulisan sajak secara lugas, pembacaan sajak secara dramatik
dan bidang teater dalam wujud terobosan-terobosan stagnasi, perlawanan terhadap
kelesuan diri, pemberontakan kepada keterbatasan-keterbatasan diri dan
perjuangan mewujudkan yang diimajinasikan. Demikian pernyataan Bakdi Soemanto
salah satu pendiri Bengkel Teater Rendra pada kegiatan Seminar Teater dengan
tema Rendra dan Teater Modern Indonesia yang diselenggarakan oleh Burung Merak
Press di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat belum
lama ini. Dijelaskannya bahwa ada orang bilang “ars brevis vita longa” yang
artinya: usia seni pendek tetapi usia hidup panjang. Jika ungkapan ini benar,
kiranya tak berlaku bagi karya-karya Rendra, baik dalam wujud puisi (sajak),
pentas atau berbagai kegiatan yang ada hubungannya dengan teater. “Maka,
perlulah “formula” berbahasa Latin ini harus diubah menjadi: “ars longa vita
brevis”, yang artinya usia seni panjang dan usia hidup pendek”, jelasnya. Menurutnya,
pertemuan kita pada hari ini membuktikan hal itu. “Rendra meninggal 5 (lima)
tahun lalu, tetapi karya-karyanya tidak ikut terkubur”, imbuhnya. (ziz)
Dengan Seni Haluskan Jiwa, Kobarkan Semangat, Jauhi Narkoba.....MERDEKA!!!
Sabtu, 30 Agustus 2014
Minggu, 20 Juli 2014
Sekretariat Daerah Kota Tangerang Selatan
Kesiapan Kota
Tangerang Selatan Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) Tahun 2015
Dalam rangka peningkatan koordinasi
dan fasilitasi dukungan terhadap pengembangan iklim investasi, Bagian
Perekonomian Sekretariat Daerah Kota Tangerang Selatan menyelenggarakan
kegiatan Seminar Ekonomi Kreatif Handal dan Berdaya Saing, pada Kamis tanggal
17 Juli 2014 bertempat di Great Western Resort Serpong Jl. MH. Thamrin
km 27 Kebon Nanas Cikokol Tangerang Banten dengan tema ``Kesiapan Kota
Tangerang Selatan Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) Tahun 2015``. Kegiatan ini
di hadiri oleh peserta yang terdiri dari para anggota Koperasi UKM BSD Juntion,
Sanggar, Mahasiswa, dan Pengusaha Kecil dan Menengah dengan narasumber
Kementerian Perdagangan RI dan beberapa Pengamat Ekonomi. Ekonomi kreatif adalah ekonomi
baru dengan penciptaan nilai ekonomi yang tinggi karena berbasis. Ide dan
kreatifitas yang timbul atau berkembang karena pengetahuan yang ada (a.l
warisan budaya) dan teknologi. Industri kreatif
adalah industri yang muncul karena penggunaan kreatifitas, ketrampilan dan
talenta individu untuk menciptakan nilai tambah dan penciptaan lapangan
pekerjaan. Kreatifitas bukan saja berbasis seni budaya tapi juga berbasis
sains, teknologi informasi, inovasi dan engineering. Pengelompokan
industri kreatif berdasarkan subtansi dominan dan intensitas sumber daya : Media (Film Video
Fotografi, TV dan Radio, Musik, Periklanan, Seni Pertunjukan, Penerbitan
dan Percetakan). Seni dan Budaya
(Arsitektur, Desain, Pasar Barang Seni, Kuliner, Fesyen, Kerajinan). Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (Teknologi Informasi, Permainan Interaktif, Penelitian dan
Pengembangan). Ruang
lingkup sektor industri kreatif : Seni Rupa (Seni Grafis,
Fotografi, Seni Lukis, Seni Patung, Kriya, Seni Keramik, Seni Instalasi). Seni Pertunjukan
(Musik, Teater, Sastra, Tari). Arsitektur (Lanskap,
Interior, Kota). Media Konten
(Periklanan, Audio Video, Tulisan Fiksi/Non Fiksi, Animasi Komik, Web dan
Mobile, Permainan Interaktif). Perfilman (Film Layar Lebar, Film TV,
Video, Film Animasi, Film Iklan). Desain (Industri,
Komunikasi Visual, Produk, Kemasan, Grafis), Fesyen (Busana, Alas Kaki,
Aksesoris). Industri Musik.
Kerjasama ekonomi ASEAN mengarah kepada pembentukan komunitas ekonomi ASEAN
sebagai suatu integrasi ekonomi kawasan ASEAN yang stabil, makmur dan berdaya
saing tinggi. MEA yang diberlakukan pada Desember
2015, bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan
pengembangan budaya. Ada 4 (empat) Pilar ASEAN Economic
Community (AEC) : Terbentuknya pasar dan
basis produksi tunggal. Kawasan berdaya saing
tinggi. Kawasan dengan pembangunan
ekonomi yang merata. Integrasi dengan
perekonomian dunia. Ada 4 (empat) Hal Yang Harus
Diantisipasi Dalam ASEAN Economic Community :
Minimnya sumber daya
alam. Defisit,
Pengangguran.
Bebasnya investasi.
Kreatifitas
merupakan inti dari industri kreatif. Industri kreatif sebagai industri
yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, ketrampilan, dan bakat individu
untuk menciptakan lapangan kerja dan kesejahteraan dengan menghasilkan dan
mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Ekonomi
kreatif adalah sistem kegiatan manusia yang berkeaitan dengan produksi,
distribusi, pertukaran, konsumsi barang dan jasa hasil industri kreatif.
Pengembangan ekonomi kreatif mulai marak diperbincangkan sejak tahun 2006. Akar
ekonomi kreatif bermula dari ekonomi berbasis ilmu pengetahuan. Ekonomi kreatif
telah didaulat sebagai gelombang ekonomi keempat setelah era ekonomi informasi.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta
Peningkatan Apresiasi Seni Pertunjukan Bagi Pelajar tahun 2014
Dari sekian banyak naskah/usulan karya
pertunjukan yang berasal dari sekolah-sekolah di lima wilayah DKI Jakarta, yang
syarat utamanya adalah bahwa materi pertunjukan harus merupakan kebudayaan
Nusantara, khususnya kebudayaan Betawi, telah dilakukan seleksi/penilaian oleh
Tim Penilai pada 26 Juni 2014 bertempat di Gedung Mustika Ratu, Pancoran,
Jakarta Selatan. Tim Penilai yang terdiri atas Happy Pretty, Ireng Halimun, dan
Entong Sukirman telah memutuskan bahwa yang berhak maju untuk mengikuti
pementasan di Gelanggang Remaja di lima wilayah kota adalah sebagai berikut :
SDN Pejagalan 01, SD PB Sudirman Cijantung, SD Petojo Utara 05, SDN Jelambar
Baru 05, SDN Keb. Lama Utara 12, SMPN 9 Ciracas, SMP Taman Siswa Matraman, SMPN
45 Cengkareng, SMPN 267 Ulujami, SMAN 92 Cilincing, SMAN 83 Sukapura, SMA PKP 1
Ciracas, SMAN 5 Kemayoran, SMAN 101 Kembangan, SMAN 74 Keb. Lama.
Sekolah-sekolah tersebut harus menampilkan seni pertunjukan sesuai skenario
naskah yang mereka buat dan telah dinilai oleh Tim Penilai, di Gelanggang
Remaja sesuai wilayah domisili sekolah masing-masing. Ketentuan pementasan
antara lain berdurasi minimal 10 menit, maksimal 45 menit dengan jumlah pelakon
minimal 10 orang, maksimal 30 orang pelajar. Dengan jadwal pementasan sebagai
berikut : 12 Agustus 2014 di GRJU, 14 Agustus 2014 di GRJT, 18 Agustus 2014 di
GRJP, 20 Agustus 2014 di GRJB, dan 25 Agustus 2014 di GRJS. Selama pementasan
berlangsung, selain dinilai oleh Tim Penilai, pementasan juga akan dikritisi
oleh 2 (dua) orang pengamat, yakni Yahya Andi Saputra dan Suprihardjo. Materi
penilaian adalah : tafsir, harmoni, komunikatif, kreatif. Kegiatan pementasan
tersebut juga akan disinegikan dengan pagelaran Wayang senggol dan bimbingan
teknis/coaching clinic 2 (dua) seni tradisi Betawi, yaitu pantun dan gambang
rancak. Coaching clinic akan ditangani oleh 2 (dua) praktisi seniman Betawi,
yakni Bang Firmansyah dan Bang Aden.
Kamis, 19 Juni 2014
Seni Budaya Jakarta
Mengelola Jakarta Ke Depan
Jakarta memang kota yang
sarat dengan permasalahan. Jumlah penduduk akibat urban, tata ruang,
Penghijauan, kemacetan, rumah tinggal, banjir, termasuk juga masalah sosial dan
budaya. Penataan Jakarta tidak semudah mengucapkannya. Harus ada kemauan yang
terintegrasi antara pemerintah dki dengan daerah sekitar dan dengan pemerintah
pusat. Mengintegrasikan itu tidak mudah hanya dengan alasan tergantung komunikasi.
Demikian pula dengan istilah eksekusi juga tidak semudah yang diucapkan.
Mengelola Jakarta ke depan, akan bertambah berat. Demikian halnya, Rakyat
Betawi sebagai masyarakat inti Jakarta harus menjadi prioritas dalam anggaran
pembangunan kota Jakarta kedepan. Selama ini, anggaran untuk mengembangkan dan
melestarikan budaya betawi sangat kecil dan tidak memadai. Rakyat Betawi harus
melakukan gebrakan shock teraphi untuk membangun kembali semangat dan motivasi
kebetawian. Dengan demikian dapat melakukan banyak hal termasuk memaksa pemda
dki untuk menghargai, menghormati sekaligus tidak memandang sebelah mata kepada
Rakyat Betawi. Dari kesemuanya itu yang terpenting adalah rakyat Betawi tidak
terkooptasi dengan keberadaannya.
(Sumber : H. Zaenuddin, MH,
SE, DPRD DKI)
Gelanggang Remaja Jakarta Selatan
Kegiatan
Kreativitas Budaya Remaja Jakarta Selatan
Budaya yang sudah ada perlu
dilestarikan dan dikembangkan dengan pembibitan para remaja. Kegiatan
Kreativitas Budaya Remaja adalah salah satu program yang dirancang pemerintah
untuk mendukung peningkatan kecintaan remaja terhadap budaya bangsa. Program
ini mendorong remaja untuk lebih berperan aktif dalam berbagai dimensi budaya
baik lokal maupun nasional. Remaja tidak hanya sebagai objek tetapi juga subjek
pembangunan, remaja adalah pelaku, pemanfaat sekaligus pengawas pada setiap
pengembangan budaya baik lokal maupun nasional. Secara khusus, pelaksanaan
program kegiatan ini meluncurkan program pelestarian budaya dengan menggandeng
remaja. Pelestarian budaya dilakukan dengan melaksanakan pentas kreativitas
seni dari masing-masing peserta. Program ini sangat efektif mengarahkan potensi
remaja dengan mendorong kreativitas mereka untuk berkesenian. Aktivitas budaya
juga diyakini mampu menghindarkan remaja dari prilaku negatif disamping juga
berfungsi sebagai bentuk konservasi budaya. Pentas kreativitas seni tersebut
berlangsung di Aula Village Villa Cikeretek, Bogor, Jawa Barat, Rabu-Jumat,
20-22 November 2013 lalu yang diselenggarakan dan dihadiri oleh Pejabat
Gelanggang Remaja Jakarta Selatan, Pengurus Remaja Ceria Indonesia, Perwakilan
Pembina Siswa/I SMA/SMK Se Jakarta Selatan dan Narasumber yang berkompeten
dibidangnya. Proses pemusatan kreativitas seni remaja tersebut dilakukan dengan
intensitas lebih dari 5 (lima) kali pertemuan. Kegiatan ini setidaknya
melibatkan 100 (seratus) peserta dari perwakilan SMA/SMK Se Jakarta Selatan.
Persiapan yang cukup ternyata tidak mengurangi performa para peserta dalam
menunjukkan aksinya. Diharapkan program semacam ini bisa dilaksanakan secara
berkesinambungan untuk mencari bibit serta melestarikan kebudayaan sesuai
dengan konsep Jakarta Baru, Jakarta Kita yang terus didengungkan.
(Sumber : GRJS Bulungan
Jaksel, Kegiatan
Kreativitas Budaya Remaja Jakarta Selatan)
Balai Latihan Kesenian Jakarta Selatan
Pentingnya Pemaduan Idiom Dalam Pentas
Teater
Seni
pertunjukan merupakan bentuk seni yang menggunakan media panggung bagi seorang
sutradara. Apakah itu seni tari, musik maupun teater atau drama. Seorang koreografer, musisi atau sutradara
teater, menuangkan gagasannya diatas pentas dengan melibatkan berbagai disiplin
ilmu yang dapat menunjang kreatifitasnya, seperti tata pentas, kostum, dan tata
cahaya, akan menjadi karya pentas tersebut menjadi hidup dan dapat dinikmati
oleh penontonnya untuk hiburan dan kepuasan batinnya. Dalam kesempatan ini
pelatihan yang digagas oleh Disparbud Prov. DKI Jakarta melalui UPT Balai
Latihan Kesenian Jakarta Selatan, mencoba untuk terus membina dan mengembangkan
satu bentuk pertunjukan terpadu mulai dari kelas dasar, madya, dan kelas
terampil. Kelas terampil yang ini kali telah diberikan pembelajaran secara
mandiri dengan pebimbingan para fasilitator berbagai ilmu seperti tata busana,
tata rias, artistik, seni peran, dan penyutradaraan sehingga menjadi seniman
yang patut mendapatkan kesesuaian respon positif. Uji pentas pada tingkat ini
bukan sekedar dipentaskan didalam lingkup atau ditempat pelatihan internal,
tapi mencoba untuk di uji pentaskan di tempat dimana secara akademis dilakukan
pembelajaran secara formal. Jurusan Teater STSI Bandung adalah sasaran untuk
melakukan uji pentas tersebut dengan harapan mendapatkan feedback dari para
akademisi dan diharapkan bekal yang mereka peroleh akan menambahkan kelengkapan
keterampilannya. Dalam berbagai peminatan dalam pelatihan selama tiga tahun
sejak kelas dasar sampai kelas terampil, telah membuka peluang untuk dijadikan
bekal dalam bidangnya. Lahir sutradara, aktor, dan para pekerja seni lainnya
yang dapat menunjang sebuah pementasan yang utuh untuk ditularkan pada
kelompoknya masing-masing atau menjadikan profesi sebagai lahan berkreatifitas
serta lahan pendapatan ekonomi (industri kreatif). Peserta sebanyak 30 orang
yang telah dilatih adalah peserta pilihan dari 3 angkatan diharapkan akan
menjadi peserta yang mandiri dalam berkeseniannya. Sebuah ketidakmustahilan
perkembangan seni pertunjukan dikemudian hari di Jakarta khususnya dapat terus
berkembang dan dipelihara sehingga banyak calon pelaku seni lainnya untuk
mendapatkan kesempatan serupa. Balai Latihan Kesenian adalah salah satu tempat
dimana Prov. DKI Jakarta telah memberikan dan membuka peluang bagi siapa saja
yang ingin mengembangkan potensi diri dalam hal kesenian yang selalu siap
memberdayakan manusianya. Hal ini juga diharapkan dapat menular ke berbagai
daerah di luar Jakarta sehingga habitat seni pertunjukan sebagai kekayaan
bangsa : sarana informasi, pendidikan dan hiburan tumbuh berkembang sesuai
dengan harapan. Dalam perjalanan pelatihan seni ini, mereka telah diberikan
kedua-duanya perihal jenis seni pertunjukan. Teater tradisi sebagai akar dan
pijakan berkeseniannya, juga teater modern sebagai salah satu jenis kesenian
dengan metode pembelajaran dari barat. Pada tahap terampil, mereka telah
mencoba untuk memadukan idiom dalam satu aktifitas pentas yang melahirkan
bentuk baru. Teater Betawi. Selebihnya, apa yang akan kita lihat bukanlah
sebagai ukuran dalam kontek kualitas pertunjukan, tapi lebih mengarah pada
sebuah nilai tawar, apakah hal seperti ini bisa dilakukan di Jawa Barat,
khususnya di Bandung yang bisa dilakukan oleh STSI bekerjasama dengan
Departemen Pariwisata dan Kebudayaan sebagai penyedia fasilitas untuk
memberdayakan para pelaku seni serta pengembangan keseniannya itu sendiri.
Semoga hal ini menjadikan inspirasi sebagai pencarian untuk menemukan jati diri
kesenian bagi semua pihak yang berkecimpung di ranah seni khususnya seni
pertunjukan.
(Sumber : Budi Sobar,
IKJ Jakarta, Uji Pentas Seni Teater Tk Terampil UPT BLK Jaksel, STSI Bandung
Jabar)
Warisan Kebudayaan Dunia
Warisan Kebudayaan Dunia Versi UNESCO
Secara
empiris melalui penjelajahan berbagai situs warisan kebudayaan dunia versi
UNESCO dapat ditarik beberapa kesimpulan khususnya mengenai dampak situs-situs
atau obyek tak benda yang telah memperoleh pengakuan UNESCO sebagai warisan
kebudayaan dunia. Mengenai relevansi mutu warisan kebudayaan dunia benda dan
tak benda yang diakui UNESCO pada hakikatnya dapat diperdebatkan secara mubazir
sampai akhir zaman sama halnya dengan semua keputusan berdasar selera dan
persepsi yang mustahil benar-benar obyektif. Namun mengenai dampak dapat
ditarik simpul-simpul kesimpulan yang bisa dianggap sebagai obyektif. Bakhan
pada hakikatnya dampak warisan kebudayaan UNESCO merupakan daya “potensi” yang
siap dimanfaatkan apabila mau dan mampu dimanfaatkan oleh masyarakat dan negara
bersangkutan. Beberapa daya potensi WHU (World Heritage UNESCO) adalah :
Penggelora semangat kebanggaan Nasional, Promosi Pariwisata, Promosi Industri
Kreatif, Pelestarian Karsa dan Karya Kebudayaan, Inventarisasi Perbendaharaan
Kebudayaan Nasional. (ziz)
(sumber
: world heritage unesco, yayasan warisan kebudayaan dunia nusantara)
Langganan:
Postingan (Atom)




